| Fake Worlds; | |
| let's get up let's get on it can we finish what we started | |
|
Comeback!
Posted on Selasa, 17 April 2012
Sebelumnya, aku minta maaf
kepada kalian semua. Yeah, hampir seminggu ini aku tidak membuat posting
cerita. Maaf sekali, ak ucapkan tulus setulusnya dari hatiku ^^ Yeah, sebab banyak
tugas menumpuk apalagi aku sakit juga. Sekali lagi, maaf ya ^^
Yeah kita mulai
cerita selanjutnya…
Nathanael terus
mengikutiku. Yeah hatiku sungguh cemas sekali. Aku berdoa terus menerus, hingga
tiba-tiba terdengar bunyi telepon berdering dari ponselku. Aku melihatnya, dari
Kak Vennessa! Lalu ide brillian terlintas di kepalaku. Aku segera menjawab
telepon itu, “ Mr. Richard ada apa? Tidak biasanya menelepon di nomor ponsel
saya? Oh, saya harus ke ruang guru? Baiklah kalau begitu.” , jawabku lalu mematikan
teleponku. “ Nathan, seperti yang kau dengar tadi, Mr. Richard memanggilku ke
ruang guru. Aku harus pergi sekarang. Daaah. “ , kataku sambil berlari pergi.
Aku lalu
menghentikan langkahku di dekat taman. Yeah disitu ada kamar mandi laki-laki.
Aku berniat berganti pakaian disana.
Saat aku memasuki kamar mandi tiba-tiba lonceng berbunyi. Ouh, sial! Aku lalu
segera mengganti bajuku dengan cepat, tidak kupedulikan rambutku yang
acak-acakan, bahkan aku tidak sempat menyemprotkan sedikit parfum. Aku lalu segera
berlari menuju ke kelasku yang lumayan jauh. Sampai di kelas, untung saja
pelajaran masih belum dimulai. Aku lalu segera duduk di bangkuku. Evelyn
menyapaku dan aku menjawabnya dengan tersenyum. Aku terpaku pada isi tempat
pensil milik Evelyn, banyak alat tulis dan peralatan yang cute. Aku jadi ingin. “ Evelyn kamu membeli alat tulis ini dimana?
“ , tanyaku tidak sadar bahkan aku terkejut mendengar ucapanku ini. “ Oh, ini,
aku membelinya di beberapa toko buku dan pusat
stationary. Kamu ingin membeli untuk
siapa? “ , jawab Evelyn penasaran. “ Ouh, emmm, untuk siapa ya? Untuk kakakku!”
, kataku sambil menggaruk kepalaku.
Pelajaran
dimulai, yaitu pelajaran Social, kalau di Indonesia mereka menyebut pelajaran
ini IPS. Guru kami bernama Bu Is, yeah, beliau orang Indonesia asli. Beliau
juga enggan disebut Miss. Guru ini paling suka menunjuk siswa lalu bila sudah
ada di depan, anak itu akan dijejali banyak pertanyaan oleh guru ini. Yeah,
hari ini mungkin memang hari sialku. Aku ditunjuk maju ke depan. Aku tidak
memiliki persiapan apapun maka dari itu aku tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Bu Is lalu menunjuk William untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya diajukan
kepadaku. Evan juga tidak bisa menjawabnya.
“ Kalian
bagaimana, sih? Anak kelas 8 SMP saja bisa menjawab pertanyaaan semudah ini! “,
kata Bu Is memarahi kami. “ Ya , sudah, kalian duduk di tempat masing-masing!”
, kata Bu Is lagi. Bu Is lalu menunjuk Alan dan Nisa maju ke depan. Sontak
seluruh kelas menyoraki mereka, namun aku tidak turut serta. Aku hanya bisa
memandang dengan pandangan ful wackiness kepada
mereka. Dalam persepsiku, menyoraki seseorang saat melakukan sesuatu atau
lainnya adalah sesuatu yang membuang waktu dan tenaga. Apalagi Evelyn, dia
adalah orang yang paling bereriak kelas menyoraki Alan!
Setelah
menjawab pertanyaan Alan dan Nisa duduk, kami lalu menyelesaikan pelajaran
hingga bel berbunyi tanda pulang.
~ Yeah mungkin
sekian untuk hari ini ^^ ~
…
Senin, 16 April 2012
Seperti
layaknya hari Senin yang sibuk dan membosankan pada umumnya. Namun hari Senin
yang ini sangatlah berbeda. Hari ini aku libur ujian nasional kelas XII! Oh,
terima kasih, akhirnya aku bisa mendapatkan hari bebasku,
Hari ini, aku
berencana pergi ke salon, aku berencana untuk melakukan spa dan relaksasi. Setelah
itu aku berencana pergi ke mall untuk membeli stationery juga baju dan gaun baru untuk acara keluarga hari Rabu
besok. Aku paling senang karena aku akan melakukan itu semua dengan Kak
Venessa. Sudah lama aku tidak shopping bersama
kakakku ini.
Akhirnya kami
sampai di salon. Kami melakukan spa dan
relaksasi. Setelah hampir satu setengah jam di salon, kami lalu
bergegas ke mall. Saat memasuki mall, aku tidak sengaja berpapasan dengan
Nathan di tempat parkir. Bahkan Nathan mengampiriku. “ Hey, Kak Venessa! Lama
tidak berjumpa! “ , sapanya pada kakakku. Aku hanya bisa melongo melihat
kejadian itu. “ Kak, kapan aku bertemu tunanganku? “ , tanya Nathan sambil
tertawa. Kak Venessa lalu menunjuk-nunjuk diriku. Aku terkejut. Apa maksudnya
ini? “Nathan, ayo kita jalan bersama. Supaya kamu bisa lebih dekat dengan
Raysha!? “ , kata Kakakku mengajak Nathan. Kami lalu berjalan memasuki mall dan menaiki escalator.
“ Hei, namaku
Nathanael. “ , sapanya. “ Maaf, sebenarnya siapa kamu? Aku merasa tidak
mengenal dirimu. Bahkan kau memperkenalkan dirimu tanpa menyebut nama marga.
Apakah kita sudah ‘sedekat’ itu? “ , tanyaku menyembunyikan keterkejutanku. “
Wah, kau tidak tahu, ya? Aku ini calon tunanganmu. Hari Rabu besok kita akan
dipertemukan. “, katanya. “ APAAA?! “ , kataku sedikit terkejut. “ Maka dari
itu aku datang ke Indonesia. Aku sangat menyetujui pertunangan ini. karena aku
tahu Nathan anak yang baik bagi dirimu. “ , kata kakak menyambung
perkataanku. Nathan yang dipuji hanya
tersenyum.
Kami lalu
melanjutkan perjalanan kami. Kami memilih gaun dahulu. Sepertinya tujuan kami
bertiga sama, kami mencari baju yang pantas digunakan untuk hari Rabu besok.
Kami bahkan saling meng-comment baju
pilihan masing-masing. “ Raysha, hiasannya terlalu berlebihan. Carilah yang simple. “ , saran Nathan. Yeah, terlihat
sekali Nathan memiliki sense of art yang
tinggi, akhirnya setelah memilih beberapa gaun, aku memilih gaun berwarna krem
terusan yang dihiasi pita manis di pinggangnya dan bermotif polkadot. Yeah,
memang terlihat sederhana kedengarannya namun bila kalian mengetahuinya, gaun
ini sangat indah karena meskipun terlihat sederhana dia masih bisa menunjukkan
sense of glamour di beberapa bagiannya .
Setelah lelah
mencari gaun, akhirnya kami beristirahat di restoran. Kami memesan roti prancis
dan orange juice. Meskipun terdengar
tidak cocok namun kami sangat menikmatinya. Kami terlibat pembicaraan seru. “
Jadi, Raysha satu SMA denganku?! Aku tidak pernah menemukanmu, Raysha! “ , kata
Nathan. Aku berbicara dalam hati, tentu
saja, aku menyamar sebagai Keith! Hahahaha, aku tertwa dalam hati.
“ Tentu saja,
kau tidak dapat menemukan Raysha dimanapun. Karena dia menyamar bukan sebagai
Raysha Gillbert namun sebagai Keith Gillbert! Hahahahaha… “ , seru kakakku.
Tawaku dalam hati terhenti. “ KAKAK! “, seruku. Kakakku lalu tersadar telah
melakukan suatu kesalahan. Nathan yang mendengar pengakuan itu cukup terkejut.
“ Ray, kau menyamar menjadi Keith? Ray, kau tidak tahhu itu berbahaya! Apalagi
kau cukup popular di sekolah! Sadarlah! “ , seru Nathan tidak percaya. Aku
hanya bisa menggingit lidah. Lalu aku memberanikan diri berkata, “ Nathan, kau
bukan siapa-siapa bagi diriku. Kau bukanlah sahabat, teman, maupun
tunanganku. Jadi kau tidak berhak
mengaturku. Kau baru menjadi ‘calon’! Ini hidupku, entah aku mau membuatnya
bagaima, ini bukan urusanku. Meskipun kau tahu rahasiaku, aku mohon jangan katakan
ini pada siapapun dan tolong jangan mencampuri urusan pribadiku! ”, kataku. Aku
lalu meminum orange juice-ku hingga
habis dan bergegas meninggalkan tempat itu…
Aku berlari dan
berlari. Aku hanya bisa menangis dalam hati, “ Mengapa harus terbongkar
sekarang? Dan terbongkar di hadapan Nathan? “ Sampai di luar mall, aku segera
memanggil taksi. Aku ingin cepat pulang. Rasanya ingin sekali tenggelam di bumi
ini!
…
Selasa, 17 April 2012
Aku masih
mengurung diri di kamar tidak kuhiraukan kakak yang memanggil-manggilku. Hatiku
masih belum tenang dan belum menerima. Setelah lama berfikir, ini semua bukan
salah kakak, memang ini seharusnya ditakdirkan begini. Akupun memberanikan diri
keluar.
Yeah, selain
alasan itu, perutku juga sudah terlalu lapar karena kemarin aku juga telah
melewatkan makan malam kemarin. Padahal makan malam kemarin cukup enak juga,
steak dengan christollen. Meskipun christollen adalah hidangan natal tapi,
di keluargaku ini merupakan hidangan wajib. Selain christollen ada juga Yule log.
Yule log adalah roti khas Prancis pada Natal. Ada kepercayaan menyimpan Yule
log sepanjang tahun bisa menghindarkan rumah dari bencana kebakaran.
Kembali ke
ceritaku, aku turun ke lantai bawah. Ibu menyambutku, “ Selamat pagi, Nak… “ ,
kata Ibu menyapaku. Sepertinya Ibu tidak tahu. Memang kemarin malam, ayah, ibu,
nenek pergi ke Bogor, jadi hanya ada aku dan kakak di rumah. Aku menjawab salam
ibu dengan senyuman dan menuju ke meja makan. Aku mengambil roti yang kuolesi
selai nanas dan segera memakannya. Aku menghabiskan 5 roti selai nanas
sekaligus. Perutku memang sangat lapar.
Setelah makan
aku mandi. Aku sangat menikmati “ritual” – ku yang satu ini. Setelah mandi, aku pergi ke taman belakang
untuk menyisir rambutku. Aneh, rumah terasa sepi. Kakak sepertinya juga tidak
ada. Syukurlah, karena saat ini aku tidak ingin bertemu kakak.
Aku merasa
bosan di rumah, aku lalu pergi ke kamar untuk mengambil handphone dan tasku. Aku
berencana untuk berjalan-jalan sebentar. Aku lalu melihat handphone-ku, aku
melihat 15 misedcall dan 13 sms
masuk. Semuanya dari Nathan dan kakak. Aku lalu menghapus sms itu tanpa melihat
isi pesannya terlebih dahulu.
Aku berjalan kea
rah taman dan duduk di bangku yang dekat dengan air mancur. Yeah, di tempat
inilah aku bisa menenangkan diri. “ Raysha! “ , teriak seseorang. Aku lalu
memalingkan mukaku ke arah suara itu. Ternyata kakak! Aku beranjak dari bangku
tempat aku duduk. Namun semuanya terlambat. “ Raysha! Aku mencarimu. AKu ingin
minta maaf denganmu? “ , kata kakak terengah-engah. “ APA? Kakak, sudah
berjanji namun kakak melanggarnya. “ , kataku ketus.
Kakak menarik
nafas. “ Bukan maksudku. Aku sudah menyelesaikan masalah ini. kakak sudah
bicara dengan Nathan dan dia memakluminya. Kakak jamin masalah ini sudah
selesai. “ , jelas kakak. “ Baik, aku terima itu. “ , kataku tersenyum. Yeah,
meskipun aku masih agak marah namun itu tidak baik, kan. Lagipula masalhanya
juga sudah selesai.
Kakak lalu
mengajakku ke tempat percetakan undangan. Aku menurutinya. Sampai disana kakak
keluar mengambil undangan dan aku tinggal di mobil. Setelah sekian lama,
akhirnya kakak kembali. Aku lalu melihat undangan-undangan yang akan disebar. Memang
sebagian undangan sudah disebarkan dan undangan kali ini yang kami ambil adalah
undangan khusus untuk keluarga dan kerabat dekat kami. Keseluruhan undangan itu
ada 10. Dua diantaranya untuk keluarga Evelyn dan Alicia-Sylvia. Saat, aku
melihat nama undangan aku terkejut, “ Barbara? Keluarga Barbara? “ , gumamku. “
Ohh, mereka itu teman orang tua kita. “ , kata kakak menjawab. “ Apa?? “ ,
jawabku agak terkejut.
Ini berarti
William hadir di acara itu? Bagimana mungkin? Apalagi aku melihat keluarga Earl
sahabat William juga diundang. Tuhan, bagaimana kalau mereka mengenaliku??! Aku
harus bagaimana…
Sekali lagi aku
hanya bisa mendesah panjang. Yeah, ini memang ditakdirkan dan memang harus
begini…
~ To be Continued~
New Friend
Posted on Selasa, 03 April 2012
Senin, 2 April 2012
Yeah, setelah
aku mendengarkan pengakuan secara tidak langsung dari William, aku mulai
berfikir, “
Sebenarnya apa salahku hingga aku dibenci seperti itu? “ Jujur saja memang
Putri masih mendekatiku namun hingga saat ini, aku masih terbilang “
MENGACUHKANNYA “ Aku masih belum berfikir untuk mendekati Putri untuk membalas
dendam atas perbuatan yang dilakukan William kepadaku. Memang itu ide yang
bagus namun aku tidak yakin akan akibat yang kuterima nantinya.
Hari ini, aku
masuk sekolah seperti biasa. Saat aku memasuki gerbang sekolah, tiba-tiba
William menghampiriku dan menyapaku. “ Selamat pagi, Keith. “ , sapanya. Aku mengangguk.
“ Sebelumnya terima kasih, ya, karena kau sudah menyelamatkanku sewaktu outbond kemarin. Aku tidak sempat
mengatakannya kemarin. “, kataku sedikit berbasa-basi. William mengangguk
tersenyum. Tidak biasanya dia tersenyum seperti ini, apa sikapnya sekarang ini
ada hubungannya dengan “RENCANA” yang aku dengar kemarin? “ Oh, ya, Keith, kamu
akan mengikuti lomba karate, ya? “ , tanyanya. “ Iya. Darimana kamu tahu? Aku
belum mengatakan ini pada siapapun. “ , tanyaku menyelidik. “ Aku melihat
namamu di daftar calon peserta lomba karate di meja Mr. Richard. Oh, ya,
kebetulan lomba itu diadakan di tempat yang sama dengan lomba judo. Aku akan
mengikuti lomba judo. Jadi kita berjuang bersama, ya! “
Akhirnya sampai
juga di kelas. Aku lalu segera menghampiri bangkuku dan duduk disana. “ Hey,
Keith, kau tahu hari ini ada pelajaran olahraga jam ke 3-5? ” , tanya Alan yang
tiba-tiba datang dan menempuk bahuku. “ Iya. Memang kenapa? “ , tanyaku agak
acuh. “ Pelajaran hari ini renang, lho! Menyebalkan, tau gak, Keith! Soalnya aku gak
bisa renang sama sekali “ , jawab Alan. “ APA! RENANG?! “ , jawabku dengan
seteng ah terkejut. Oh, Tuhan kenapa seperti ini jadinya. Apakah identitasku
akan terbongkar secepat ini? “ Sebentar, ya, Lan. Aku mau keluar dahulu. “ ,
kataku memutus pembicaraan Alan dan berlari ke taman sekolah. Yeah, aku ingin
berfikir dan menenangkan diriku. “ Hey, Keith! “ , teriak Alicia dan Sylvia
bersamaan di telinga kanan dan kiriku. “ What?
Don’t disturb me, now, please! ”,
kataku agak sedikit kesal. “ Kami tahu apa yang membuatmu bingung. Follow me, right now. “, kata Sylvia
dengan menggandengku ke suatu tempat. Alicia mengikuti kami dari belakang.
Yeah, mereka
menyeretku di sebuah ruang. “ Ini ruang
pertemuan. Namun ruangan ini sudah tidak terpakai. Jarang sekali murid yang
datang kesini sebab tempatnya terlalu jauh dan agak memisah. “ , jelas Sylvia.
“ Disini aman. Tidak aka nada orang yang
melihat kita disini. “, sambung Alicia dengan tertawa kecil. “ Kami tahu
hari ini adalah pelajaran renang. Kami akan menolongmu. “ , kata Alicia. Sylvia
lalu berbalik menuju lemari yang ada di ruangan itu. “ Kami menyimpan barang
berharga kami disini. Yeah, ini seperti rumah kedua kami. Lihatlah sekeliling
kami selalu membersihkannya tiap minggu. “ , kata Sylvia sambil terus mencari
sesuatu yang diinginkannya. Sylvia lalu berbalik sepertinya dia sudah
menemukannya. “ Nah, ini dia! “ , katanya sambil menyodorkan sebuah baju renang
tepatnya itu baju renang tertutup yang dipergunakan tiap orang untuk menyelam
di dasar laut. “ Kalian gila?! Bagaimana
bisa aku memakai ini? “ , tanyaku. “ Keith, tidak ada pilihan lain. Kamu
harus memakai ini atau kau ingin penyamaranmu terbongkar? Sudah, bilang saja dengan Mr. Richard kamu
lupa tidak membawa celana renang karena tertukar
dengan baju menyelam ini. “ , jelas Alicia. “ Baiklah, sebelumnya terima kasih
atas bantuannya. Aku pergi dahulu, ya. “, kataku sambil bergegas pergi
meninggalkan ruangan itu.
Aku lalu
berjalan menenteng tas berisi baju menyelam dengan gembira. “ Apa yang kau
bawa, Keith? ” , kata William tiba-tiba menepukku dari belakang. Membuatku
terkejut saja. “ Eumm, eumm, ini baju menyelam. Aku salah membawa waktu
berangkat tadi. Bungkusan yang berisi celana renang tertukar dengan baju
menyelamku. “ , kataku sambil menunjukkan tas yang kubawa. Untung saja. “ Ouh,
kamu pintar menyelam, ya? “, tanya Keith lagi. “ Ya sedikit-sedikit. Tiap tiga
bulan sekali aku melakukan itu. Yeah, kakakku selalu memaksaku untuk mengikuti
olahraga menyelam bersamanya. “ William mengangguk. “ Apakah kau mau aku
pinjami celana renangku. Kebetulan aku membawa dua. “ , tambah William. “ Ah,
enggak. Ini sudah cukup, kok. Sudah ya, aku duluan. Aku harus menemui Mr.
Richard. “, kataku agak terburu-buru. Yeah, aku tahu kalau aku mengikuti William
terus dia pasti akan terus memaksaku memakai celana renangnya.
Saat aku
berlari, tiba-tiba aku menabrak seseorang. “ Maaf. “ , kataku turut bangun
membantu merapikan buku laki-laki itu yang terjatuh karenaku. “ Terima kasih.
Oh, kamu Keith Gillbert, ya? Kamu ikut eskul karate kemarin, kan? “, sapa
laki-laki itu ramah. “ Eh, eummm, iya. Bagaimana kau bisa mengetahui itu? Aku
rasa kita belum mengenal satu sama lain. “, sambungku. “ Oh, namaku Nathanael
Mountesquieu. Panggil saja aku Nathan. Aku ini seniormu, lho! “, katanya. “ Benarkah? Bagaimana bisa?! Badge kelasmu
menunjukkan garis hijau, itu tandanya kamu kelas XI sama sepertiku. “ , kataku
sedikit meremehkannya. “ Yeah, memang. Namun, saat karate aku sudah mencapai
sabuk hitam dan kau baru sabuk cokelat. “ , katanya tersenyum penuh kemenangan.
“ Oh, ya? Baiklah. Tenang saja, aku akan menyusulmu. Sudah ya, aku ada sedikit
urusan penting. Bye! “ , kataku
sambil melambaikan tangan.
Laki-laki itu
seru dan menyenangkan juga. Kelihatannya dia memang mudah bergaul dengan siapa
saja. Namanya Nathan. Ahh, nanti aku akan menanyakan itu pada Alan.
Sampai di
kelas, aku segera menghampiri Alan. “ Alan, kamu tahu sesuatu tentang Nathanael
Mountesquieu? “ , tanyaku. “ Ooh, dia laki-laki pintar, mudah bergaul, ramah.
Sama sepertimu juga, dia berasal dari Prancis. Bahkan dia seringkali menjuarai
lomba karate maupun Sains! Sebelum kamu datang dia berada di tingkat 1 ‘Daftar Cowok Yang Paling Ingin Dikencani’
, tapi, setelah kamu datang dia
tersingkir menjadi peringkat dua dan peringkat pertamanya kamu. “ , jelas Alan.
“ Memangnya ada chart seperti itu? Darimana kamu tahu? “ , tanyaku balik dengan
tertawa kecil. “ Tentu saja ada. Aku mengetahui itu dari Nisa. Katanya, anak
perempuan disini memiliki komunitas namanya, ‘WLF’ , aku tidak mengetahui
singkatan apa WLF itu. WLF memiliki satu webpage
khusus dimana semua member WLF bisa share satu sama lain. Di webpage itu sering diadakan votes, salah satunya ‘Cowok Yang Paling Ingin DIkencani’ itu.
“ , jelas Alan. AKu lalu mengangguk-angguk.
Akhirnya
setelah melewati pelajaran jam ke 1-2 yaitu Budaya, akhirnya pelajaran olahraga
datang juga. Sebelum pelajaran olahraga dimulai, kami berganti pakaian dahulu.
Aku lalu segera melesat pergi ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi aku segera
mengganti bajuku lalu melesat menuju ruang kolam renang sebelum ada yang
memergokiku.
“ Keith,
mengapa kau memakai baju menyelam bukannya celana renang? “ , tanya Mr. Richard
keheranan. “ Celana renang saya tertukar
dengan baju menyelam ini. “, jawabku lantang. Yeah, untuk menutupi rasa cemasku
ini. Setelah semua berkumpul pelajaran dimulai. Hari ini adalah pelajaran
renang gaya dada dan kupu-kupu.
Yeah, untung
saja aku sudah cukup mahir dalam renang jadi aku tidak mengalami kesulitan yang
berarti. Yeah, ada kejadian lucu sewaktu pelajaran renang ini, William tidak
mahir dalam gaya kupu-kupu. Dia
melakukannya dengan sangat lucu. Oh, ya, pelajaran renang kali ini, kelasku
digabung dengan kelas Nathan. Yeah, jadi kelas kami berlomba untuk mendapat
nilai bagus saat latihan renang tadi.
Setelah
pelajaran renang, aku segera melesat ke kamar mandi. Yeah, untuk kedua kalinya
aku tidak ingin ketahuan. Terlalu berbahaya. Tiba-tiba aku merasa ada yang
menguntitku. Aku berbalik. “ Nathan?” , kataku terkejut setelah melihat sesosok
orang yang menguntitku itu. “ Hey, kau akan gangti baju, ya? Bolehkan aku ikut
denganmu?”, tanya Nathan dengan wajah innocent.
Aku bimbang sekali saat itu. Kalau aku melarangnya dia pasti akan curiga
padaku. Apalagi pelajaran jam selanjutnya akan dimulai. Aku harus bagaimana?? “
Eummm, eummm, oke deh. “ , kataku dengan terpaksa.
Bagaimana ini?
Bagaimana aku bisa sebodoh ini, sih? Sepertinya aku harus meminyta tolong
dengan seseorang tapi dengan siapa?
s'il vous plaît aidez moi déesse Fortuna. ne
laissez pas mon destin de finir comme ça!
The War is Begin
Posted on Minggu, 01 April 2012
Masih di hari yang sama
…
Aku lalu
terbangun. Rasanya badan ini terasa berat dan aneh. Aku lalu melihat
sekeliling, aku sudah tidak ada di hutan. Aku sudah berada dalam sebuah kamar,
sepertinya ini kamar kesehatan yang disediakan untuk siswa yang sakit. Aku lalu
mencoba bangun, namun tiba-tiba Ms. Anne masuk. Kuurungkan niatku. “ Kau sudah
bangun Keith? “ , sapa Ms. Anne. Aku mengangguk. “ Tadi, William menemukanmu di
hutan dan membawamu kesini. Sepertinya kau jatuh dan mengalami benturan keras
hingga kau pingsan. “ , jelas Ms. Anne. “ Bagaimana bisa William menemukanku di
hutan? “ , tanyaku balik. Aku penasaran sekali. “ Kami mendengar bahwa semua
orang tidak menemukanku di semua tempat, apalagi kau belum kembali setelah
makan siang. Lalu Shella berkata bahwa kau masuk ke hutan. Kami panic sekali,
akhirnya outbond dibatalkan untuk mencarimu bersama-sama. Akhirnya William
menemukanmu dengan keadaan tidak sadarkan diri. “, lanjut Ms. Anne. Aku mengangguk
paham, aku harus mengucapkan terima kasih pada William.
Sore tiba,
waktunya kami pulang. Satu persatu anak mulai dijemput orang tua mereka. Yeah,
setidaknya aku harus memandang iri pada mereka. Aku tidak bisa dijemput oleh
orang tua. Kalau mereka tahu, aku akan dimarahi habis-habisan. Aku hanya bisa
dijemput oleh Pak Benny, sopir keluarga nenekku yang baik hati sekaligus
mengetahui penyamaranku. Setelah lama menanti, akhirnya mobil keluargaku datang
juga. Aku segera memasukinya dengan tertatih.
“ Kak Venessa?
“, aku terkejut ketika membuka pintu mobil aku melihat kakakku menjemputku. “
Kakak, bagaimana bisa ada disini? “, tanyaku dengan terbata. “ Aku libur
lagipula aku ingin merasakan suasana baru. Hei, ada apa dengan penampilanmu?
Meskipun aku tidak sekolah di Indonesia, aku tahu ini buka seragam perempuan.
Ini tepatnya, SERAGAM LAKI_LAKI?! Apa yang kamu lakukan, Raysha? “, kata
kakakku terkejut. “ Aku menyamar sebagai laki-laki. Aku ingin merasakan suasana
baru. Please, jangan katakan ini pada
ayah, ibu maupun nenek. “, jelasku. “ Bagaimana kau bisa merencanakan ini?
Sehingga tidak ada yang tahu, Raysha! Ini terlalu berbahaya, kau tahu! “ , kata
kakakku dengan sedikit marah.
“ Semua orang di rumah tidak mengetahui ini, karena setiap aku pulang
sekolah aku mengganti bajuku. Jadi tidak ada yang tahu. Namun sejauh ini yang
mengetahui penyamaranku Pak Benny, Sylvia dan Alicia Malovski, lalu Kakak… “ ,
kataku pelan. “ SYLVIA dan ALICIA?! Sejak kapan mereka ada disini? Oh, baiklah,
aku tidak akan memarahimu dan mengatakan penyamaranmu pada siapapun. Karena aku
sudah memiliki mata-mata dan orang yang cocok untuk mengawasimu, Sylvia dan
Alicia. Nanti aku akan menelpon mereka dan menyuruh mereka untuk melaporkan
setiap kegiatanmu padaku! “ , kata kakakku. Aku tahu aku tidak bisa membantah
dan hanya bisa mengangguk. Bagaimana lagi, kakakku memang terlalu overprotective padaku. Lagipula ini
salahku juga. Akhirnya, kami lalu melanjutkan mengobrol dengan topic yang lebih
menyenangkan dan hangat tentunya.
Sampai di rumah,
ayah dan ibu terkejut melihat kakiku juga kepalaku yang ter-perban. “ Apa yang kamu lakukan, hingga
sampai seperti ini Raysha? “ , tanya ibuku terkejut. “ Aku tidak sengaja
tersandung batu besar hingga terjatuh, Bu. “ , jawabku. “ Besok kamu harus ke
dokter. Venessa, temani adikmu besok! “, perintah ibu. Aku dan kakak lalu
mengangguk pelan. Aku lalu segera masuk ke kamar dan membersihkan diriku. Benar- benar hari yang melelahkan.
Esoknya, aku
tidak masuk sekolah. Uh, pagi-pagi sekali, aku harus terbangunkan oleh seorang
dokter yang akan memeriksaku. Dokter itu lalu memeriksa kakiku. “ Sepertinya kamu mengalami luka yang cukup
parah. Saya akan memberikan obat dan antiseptic. Kamu harus istirahat di rumah
selama 3-5 hari hingga kakimu benar-benar sembuh total. “ , jelas dokter. “
Lalu, kepala saya tidak apa-apa, kan, dokter? Saya mengalami benturan keras
waktu itu hingga membuat saya tidak sadarkan diri. “ , kataku. “ Kepalamu tidak mengalami luka yang cukup parah.
Hanya mengalami sedikit shock. Kakimu
yang mengalami luka cukup parah karena kau terjatuh dengan posisi yang salah
dan terjerembab. “ , jelas dokter.
Setelah memberikan resep kepada kakakku yang sedari tadi ada di
sampingku, dokter itu pergi dan kakak
ikut mengantarkan kepergianya.
Aku lalu masuk
ke selimutku yang hangat, “ Dokter aneh! Seharusnya dia menganalisa kepalaku
bukan kakiku. Tapi, biarlah… “, gumamku. Lalu kembali tidur dalam pelukan
selimutku yang hangat.
Rabu, Kamis, Jumat
Tidak ada sesuatu
yang istimewa di hari itu. Yeah, aku masih harus beristirahat di rumah. Tidak
ada hiburan. Sebab ayah dan ibu melarangku untuk bermain dan harus di tempat
tidur. Apalagi, aku tidak boleh mengakses internet atau bermain PSP-ku.
Menyebalkan. Namun selain itu, hatiku masih terganjalkan akan sesuatu, saat aku
jatuh di hutan. Siapa yang berkata, “ Rencana kita berhasil.. “ Aku seperti
mengenal suara itu namun itu buka William. Aku yakin itu teman sekelasku. Tapi
siapa?? Apa maksudnya berbicara seperti itu. Apakah pernyataan itu tertuju
padaku atau tidak? Entahlah aku tidak tahu karena kau dalam posisi setengah sadar. Aku masih penasaran
dengan itu.
Sabtu, 31 March 2012
Yeah, hari ini,
aku masuk sekolah. Meskipun ayah dan ibu melarangku. Aku ingin masuk sekolah,
aku sudah bosan di rumah, tepatnya aku mengalami homesicking. Yeah kebanyakan orang mendekskripsikan homesick sebagai suatu perasaan rindu
pada kampung halaman atau rumah. Tapi, itu tidak berlaku bagiku, bagiku homesick adalah suatu perasaan benci atau bosan pada kampong halaman
atau rumah.
Sampai di
sekolah, aku tidak menyangka disambut seperti ini oleh teman sekelasku. Di
kelas, ada bunga di bangkuku dan di papan tulis bertuliskan, “ WELCOME BACK,
KEITH ^.^ “ Teman sekelasku juga membawa terompet yang bila ditekan mengeluarakan confetti. Mereka mengarahkan kertas
confetti itu padaku. Uhh, rambutku penuh dengan kertas kecil yang mengkilap dan
panjang itu. Namun aku begitu menikmatinya. Terima kasih semua…
Saat istirahat
aku lalu menemui William, “ William, terima kasih, ya… “ , kataku tulus.
William mengangguk dan tersenyum. “ Tidak apa-apa bukan masalah besar. “ , kata William. Aku lalu tersenyum.
“ Sudah ya, aku mau ke ruang guru dulu untuk mengambil data absensi. “ , kata
William dengan melambaikan tangan meninggalkanku. Aku kembali ke kelas dan
duduk di bangkuku. Jujur aku agak melamun karena aku merasa mengantuk.
“ Keith, ini
ada formulir data yang harus kamu isi. Besok dikumpulkan di Mr. Richard. “ ,
kata seseorang mengagetkanku. Untuk itu aku terkejut, suara orang itu seperti
suara orang yang berkata, “ Rencana kita
berhasil.. “ saat aku terjatuh di hutan sewaktu outbond. Aku lalu memandang
orang itu. Orang itu Annaliese. Annaliese sama sepert Evelyn cukup popular
namun mereka sepertinya adalah rival. “
Hei! “, kata Annaliese mengejutkanku. Aku lalu membuyarkan lamunanku dan
menerima formulir yang dibawa Annaliese. Aku lalu melihat formulir itu,
ternyata formulir pendaftaran lomba karate. Sepertinya Mr. Richard melihat
sertifikat-sertifikat karate yang kusertakan saat pendaftaran masuk sekolah
ini.
Aku masih
bertanya-tanya, Annaliese? Apa hubungannya Annaliese dengan kejadian itu.
Annaliese anak yang baik kukira dan dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang
jahat. Apalagi dia tidak begitu mengenalku. Memang, sih, dia berbeda dengan
perempuan lain. Dia agak sinis denganku. Tapi, aku rasa itu adalah bawaan
sifatnya. Dan kukira tidak ada alasan maupun sebab yang pasti dia membenciku.
Namun sepertinya, ada baiknya aku agak menjauhinya.
Bel pulang berbunyi,
ku lalu segera membereskan bukuku. Hari ini aku berenana akan pergi ke toko
buku yang ada dalam mall bersama Alan. Aku ingin membeli novel dan Alan ingin
membeli hadiah untuk ulang tahun pacarnya, Nisa. Yeah, pada hari Selasa saat
aku tidak masuk sekolah, Alan menyatakan cintanya pada Nisa dan Nisa menerima
Alan sebagai pacarnya. Setelah menjelajah mall bersama Alan, akhirnya kami ke food court yang ada di mall itu. Lapar
juga. Saat memesan makanan aku melihat Annaliese dan William sedang bercengkarama
di kursi yang agak jauh dari kami. “ Alan, Annaliese dan William pacaran, ya? “, tanyaku. “ Enggak tahu.Katanya mereka sahabat namun
kedekatan mereka itu kayak orang pacaran. “ , jelas Alan. “ Memangnya kenapa? “
, sambungnya lagi. “ Tuuh, mereka ada disana. “ , jawabku sambil menunjuk
mereka, tentunya dengan tidak kentara. Karena tidak baik menunjuk-nunjuk orang
di tempat keramaian seperti ini.
“ Sebentar, ya,
Lan. Aku mau membeli minuman disana. “ , kataku sambil keluar dari bangku
menuju stand minuman. Aku sengaja mengambil jalan melewati bangku mereka saat
akan menuju bangkuku. Aku sengaja ingin menyapa mereka. Namun saat melewati
bangku mereka aku mendengar percakapan. “ Hari ini Keith sudah masuk sekolah. “
, kata William. “ Iya, aku tahu itu. Keith
tidak mengetahui itu, kan? “ , jawab
Annaliese. William menggeleng. “ Yeah, kita tetap pada rencana kita. Bila Keith
mengetahuinya kita akan memakai Rencana B yang memang agak beresiko. Dan, aku
dengar dia akan mengikuti lomba karate. Aku akan membuat rencana. Yeah, aku
akan membuatnya cidera berat saat perlombaan itu. “, terang William. “ Aku akan
mendukung segala rencanamu. “ , jawab Annaliese dengan tersenyum.
Aku lalu
meninggalkan bangku mereka aku tidak jadi menyapanya. Waktunya tidak tepat. Apa
yang sedang mereka rencanakan padaku? Apa mereka ada kaitannya dengan kejadian
sewaktu aku jatuh di hutan. Ataukah mereka yang memotret diriku dengan Shella?
Aku harus menyiapkan rencana juga, firasatku berkata akan terjadi sesuatu yang
tidak diharapkan di hari-hariku setelahnya. Mereka tadi menyinggung tentang
lomba karate-ku. Bagaimana bisa mereka
mengetahui secepat itu? Aku harus menyiapkan segalanya.
Sepertinya,
akan terjadi perang mulai dari sekarang. Seru juga. William kau belum tahu
seberapa besar kehebatanku. Aku yang akan membuatmu hancur bukan dirimu yang
membuatku hancur.
LIHAT SAJA
NANTI!
Bad Experience
Posted on Kamis, 29 Maret 2012
Yeah, setelah apa yang terjadi kemarin, untungnya semua
berjalan baik-baik saja. Willy bahkan tidak berani lagi menyentuh
maupun bertatap mata denganku karena aku dilindungi oleh banyak perempuan.
Hahahahaha...
25 Maret 2012
Hari ini benar-benar menyebalkan. Di hari minggu yang cerah
seperti ini aku harus masuk sekolah. Sebenarnya hanya hal sepele, kamu tahu?
Hanya perpisahan guru saja. Oh My God! Aku benar-benar merasa sarcastic melihat semua orang yang
menangis yang terkesan dilebih-lebihkan. Bahkan, kau tahu? Teman sebangkuku
saja, Evelyn, menangis tersedu-sedu di samping guru kami. Hingga guru itu
bingung untuk menenangkannya. Yang paling membuatku terkejut adalah seorang Rossa, seseorang yang terlihat begitu
tangguh, cool, pintar berdebat, dan
bahkan aku mengakui dia lebih pantas menjadi seorang laki-laki bahkan menangis
tersedu-sedu di pojok kelas. Yeah, kalau Evelyn aku bisa memakluminya, karena
dia sering bersifat berlebihan terhadap semua orang, tapi, ini ROSSA! Tidak
disangka.
Aku jadi agak bingung, aku terjebak dengan situasi ini.
Situasi dimana aku terjebak di dalam banyak orang yang menangis. Menyebalkan.
Saat jam pulang, guru yang kebetulan mengajar kelasku,
mengajak kami berfoto. Aku agak kesal dan menyesal juga sebab aku tidak bisa
mengeluarkan gaya dan style –ku. Aku harus bergaya layaknya laki-laki yang cool dan mysterious. Menyebalkan.
26 Maret 2012
Setelah kejadian kemarin, akhirnya aku bisa bernafas lega.
Hari ini benar-benar menyenangkan sebab sekolah mengadakan outbond di Bogor. Yeah, untuk pertama kalinya aku keluar dari Jakarta yang sesak. Pertama
kalinya aku berada di Bogor, aku merasa senang sekali. Ini berbeda dengan di
Jakarta. Disini lebih sejuk apalagi aku ada di daerah puncak. Sebenarnya, outbond-nya biasa saja, sebab jenis permainannya
sudah sering aku mainkan saat acara Fresh
and Fun Day yang diadakan sekolah lamaku di Paris. Namun, rasanya tetap saja berbeda, karena aku
bermain di tengah suasana dan teman yang baru.
Ada sedikit cerita, waktu outbond ini. Waktu permainan jump the high rope , ada sedikit
kejadian romantis yang terjadi. Dalam permainan ini, laki-laki yang berbadan
besar harus menjadi tumpuan teman-temannya agar bisa melompat di tali yang
tinggi itu. Jujur saja aku merasa kasihan, aku ini, kan masih perempuan. Tentu
saja aku masih memiliki rasa iba yang mendalam pada tiap orang melebihi
laki-laki. Pada waktu giliran Jason melompati tali itu, tidak sengaja dia
terjatuh. Langsung saja Savira yang sudah berada di sisi tali yang lain segera
memegang tangan Jason agar tidak terjatuh dalam posisi yang lebih membahayakan.
Namun sangat disayangkan, Savira tidak langsung jatuh ke pelukan Jason seperti
di romantic movies yang sering aku
tonton, sebab Savira masih bisa menahan dirinya dengan berpegangan pada batang
pohon. Yeah, jujur aku akui Savira memang memiliki perasaan khusus pada Jason.
Bahkan hampir satu kelas mengetahuinya, namun mengapa Jason tidak mengetahui
itu? Ah, yang penting itu bukan urusanku. Tapi, ketika aku memalingkan muka
disisi yang lain, aku melihat seorang perempuan yang tersenyum sinis kepada
Savira. Savira tidak mengetahui itu dan aku juga tidak mengetahui siapa
perempuan itu. Namun aku bisa melihat bahwa tatapan perempuan itu menyinarkan
sinar kebencian terhadap Savira.
Tiba-tiba Alan menepuk pundakku, “ Panas ya, Keith! “ ,
katanya sambil berbisik. “ Kamu cemburu dengan ‘mereka’ ? “, ejekku. Alan
menggeleng kuat-kuat dan menjawab, “ Aku, kan menyukai Nisa. “ Kami lalu
tertawa bersama setelah mendengar jawaban Alan.
Aku masih penasaran dengan perempuan itu. “ Outbond tahap
pertama sudah selesai. Sekarang waktunya istirahat. Silakan mengambil makanan
di dekat mobil sekolah di wali kelas masing-masing. “, kata Mrs. Anne lewat
mikrofon. Aku lalu berjalan ke mobil sekolah yang letaknya lumayan jauh bila
berjalan kaki. Aku sangat menikmati rimbunnya pepohonan di tempat itu hingga
tak sengaja aku tersandung batu dan menubruk seorang perempuan.
“ Maaf. “, kataku. Oh, tidak, perempuan yang aku tubruk
adalah perempuan yang tersenyum sinis pada Savira. Perempuan itu lalu menjawab
menyadarkan lamunanku, “ Iya. Tidak apa-apa. “ Kami lalu berdiri. “ Namaku
Keith Gillbert. Siapa namamu? “ , tanyaku. “ Aku Stella Taner. Oh, ya,
sudah ya. Senang berkenalan denganmu. “, jawab ‘perempuan’ yang bernama Stella sambil
melangkahkan kaki meninggalkanku.
...
Setelah makan aku kembali ke tempat outbond. Aku sengaja mengambil jalan memutar yang agak jauh. Aku
ingin pergi ke sungai. Sampai di sungai, aku mendengar seseorang yang menangis.
Aku menghampirinya. Ternyata itu Stella. “ Kamu kenapa? “, tanyaku. Stella
tiba-tiba memelukku. Jujur aku agak terkejut. “ Aku benci dengan Savira karena
dia merebut Jason dariku. Dulu aku pacaran dengan Jason, namun kami akhirnya
putus. Aku yakin ini disebabkan oleh Savira! Demi mendapatkan Jason lagi, aku
bahkan rela menghadapi fitnah buruk yang menimmpa diriku!“, katanya sambil
menangis sesegukan. Aku lalu melepaskan pelukannya. “ Bersikaplah bijaksana dan
bersabarlah. Kalau Jason memang untukmu dia akan kembali padamu. “ , kataku.
Stella lalu mengusap air matanya dan mengangguk. Aku tersenyum dan menghapus
air mata yang tersisa di pipinya.
Tiba-tiba aku merasa ada sinar blitz yang mengenai diriku. Aku lalu tersadar. Oh, Tuhan,
jangan-jangan ada yang mengintip dan memotret diriku dengan Stella tadi. OMG,
aku tidak mungkin membuat skandal yang menyusahkan diriku lagi. Berbagai bayangan
buruk menyita dan datang silih berganti di pikiranku.
Aku lalu segera berdiri dan berlari mengejar orang yang
memotretku. Aku mengejar jauh hingga masuk ke hutan. Tidak aku pedulikan Stella
yang berteriak padaku. Aku berlari jauh. Namun tiba-tiba aku merasa diriku
terhuyung-huyung dan terjatuh. Aku merasa mataku berkunang-kunang. Aku lalu
memegang keningku dan melihat darah segar di tanganku. Samar-samar aku
mendengar suara, “ Rencana kita berhasil. “ Suara yang kukenal namun bukan
suara William. Oh, Tuhan apa yang terjadi?! Untuk saat itu, aku merasa tubuhku
tidak bisa digerakkan dan mataku tidak lagi kuat untuk digerakkan dan ingin
terpejam.
Oh, Tuhan apa yang terjadi? Tolong selamatkan aku...
|
Bonjour !
Readers
![]() Now stay on Jakarta. I Heart Writing Story. Enjoy my Site 'K' ? bigsmallunderline Affiliates
blogwalking Lolly Sylvia and Alicia Gita Arystha Special Special Taggie imymemine
|
| This template and banners made by Qayyum. | |